Kalbar

Mengenal IMM, Sejarah Berdiri dan Arah Gerakannya

Unggul Ali Sadewo | 24 Agustus 2026, 10:15 WIB
Mengenal IMM, Sejarah Berdiri dan Arah Gerakannya
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah - Unggul

kalbar.akurat.co - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang menjadi wadah perkaderan dalam mengembangkan kemampuan intelektual, keislaman, serta kepedulian terhadap persoalan kemasyarakatan.

IMM lahir di Yogyakarta pada 14 Maret 1964 atau bertepatan dengan 29 Syawal 1384 Hijriah. Kelahiran IMM tidak terlepas dari kebutuhan Muhammadiyah untuk memiliki wadah khusus dalam pembinaan kader di lingkungan perguruan tinggi serta pengembangan dakwah.

Dalam sejarahnya, IMM didirikan melalui gagasan dan peran sejumlah tokoh muda Muhammadiyah, di antaranya M. Djazman Al-Kindi, Soedibyo Markus, dan Rosyad Saleh. Mereka turut mendorong lahirnya IMM sebagai ruang pembinaan kader sekaligus pengembangan dakwah Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi.

M. Djazman Al-Kindi dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pencetusan dan proses awal berdirinya IMM. Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui proses panjang hingga IMM resmi berdiri pada 1964.

Sejak awal kelahirannya, IMM diarahkan sebagai organisasi kader yang memiliki tanggung jawab dalam membentuk kader Muhammadiyah yang memiliki wawasan keislaman, kemampuan intelektual, serta kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Trilogi sebagai Arah Gerak Kader IMM

Arah gerak IMM berlandaskan pada Trilogi IMM, yaitu tiga bidang utama perjuangan yang meliputi religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

Aspek religiusitas menjadi landasan bagi kader dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Kader IMM diarahkan memiliki pemahaman keagamaan yang kuat serta akhlak yang baik sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan dan aktivitas organisasi.

Aspek intelektualitas mendorong kader untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, serta tradisi intelektual. Kader IMM diharapkan mampu membaca dan menganalisis berbagai persoalan secara ilmiah serta memberikan gagasan yang konstruktif.

Sementara aspek humanitas mengarahkan kader untuk memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan kehidupan masyarakat. Kader tidak hanya dituntut memahami persoalan umat dan bangsa, tetapi juga mengambil peran dalam menghadirkan solusi serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Trilogi tersebut menjadi landasan dalam membentuk kader yang memiliki integritas keagamaan, kapasitas intelektual, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

Dengan demikian, arah gerak IMM tidak hanya berorientasi pada pengembangan kapasitas kader di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga diarahkan pada kontribusi nyata dalam kehidupan umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Melalui proses perkaderan yang berkelanjutan, IMM berupaya melahirkan kader yang mampu membawa nilai-nilai Islam dalam kehidupan, mengembangkan tradisi intelektual, serta hadir di tengah persoalan masyarakat sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.