KOKAM, Dari Sejarah 1965 hingga Pengabdian di Tengah Masyarakat

kalbar.akurat.co — Ketika bencana terjadi, kegiatan masyarakat membutuhkan pengamanan, atau warga membutuhkan tenaga sukarela, KOKAM menjadi salah satu satuan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah yang hadir dengan semangat kesiapsiagaan. Perannya kini lebih banyak bersentuhan dengan kegiatan sosial, kemanusiaan dan pelayanan masyarakat.
Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) bukan organisasi yang berdiri sendiri. Satuan ini berada di lingkungan Pemuda Muhammadiyah dan menjadi bagian dari perjalanan kader dalam membangun kedisiplinan, kesiapan bergerak serta kepedulian terhadap masyarakat.
Di balik perannya saat ini, KOKAM memiliki sejarah yang bermula pada 1 Oktober 1965. Satuan tersebut dibentuk sehari setelah pecahnya Gerakan 30 September, ketika kondisi nasional berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Angkatan Muda Muhammadiyah pada masa itu membutuhkan satuan yang dapat mendukung kesiapsiagaan warga dan lingkungan Muhammadiyah. Letnan Kolonel Haji Sudarsono Prodjokusumo dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam proses awal pembentukan KOKAM dan kemudian menjadi komandan pertamanya.
Seiring perubahan zaman, ruang pengabdian KOKAM ikut berkembang. Semangat kesiapsiagaan yang menjadi dasar keberadaannya kemudian diterjemahkan dalam berbagai kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Penanganan kebencanaan menjadi salah satu bentuk keterlibatan KOKAM. Selain itu, satuan ini juga dapat terlibat dalam pengamanan kegiatan, pelayanan sosial, kegiatan kemasyarakatan dan aktivitas lain yang membutuhkan kesiapan personel serta kerja bersama.
Bagi kader Pemuda Muhammadiyah, KOKAM juga menjadi ruang untuk membangun kedisiplinan dan tanggung jawab. Kesiapan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan untuk bergerak cepat, tetapi juga kesediaan hadir dan membantu ketika masyarakat membutuhkan.
Lebih dari enam dekade sejak kelahirannya, KOKAM terus menjadi bagian dari perjalanan Pemuda Muhammadiyah. Sejarah menjadi latar belakang, sementara pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk keberadaannya di tengah perubahan zaman.
Dari situasi nasional pada 1965 hingga kebutuhan masyarakat hari ini, perjalanan KOKAM memperlihatkan satu hal yang tetap dipertahankan: kesiapsiagaan untuk hadir ketika dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1SPM Desak Dialog Dibuka, Tolak Penghalangan Rencana Kehadiran UAS di Sanggau
- 2IPM Kubu Raya Soroti Sulitnya Izin Gunakan Fasilitas AUM
- 3Video Ojol Dilarang Jemput di Pelabuhan Rasau Jaya Viral, Aturan Titik Jemput Dipersoalkan
- 4PT SMS Bantah Ubah Kebun Mitra Jadi Galian C, Tegaskan Bahwa Itu Pembangunan Embung Untuk Bantu Perumahan Dan Kebun Warga Untuk Hadapi Karhutla
- 5Antrean Solar Subsidi Kendaraan Besar Dibatasi Mulai 1 Oktober
- 6BKPRMI Kalbar Siapkan Imam dan Khatib dari Tingkat Desa
- 7Udara Mulai Membaik, Pemuda Muhammadiyah Kubu Raya Bagikan 3.000 Masker
- 8Bawaslu Soroti Data PMI dan Wilayah Perbatasan dalam Pemutakhiran Pemilih Kubu Raya
- 9PT SMS Bantah Ubah Kebun Mitra Jadi Galian C, Tegaskan Bahwa Itu Pembangunan Embung Untuk Bantu Perumahan Dan Kebun Warga Untuk Hadapi Karhutla
- 10IPM Kubu Raya Soroti Sulitnya Izin Gunakan Fasilitas AUM








