Kalbar

Tiket Pesawat Mahal, Traveler : Mau Gak Mau Trip Harus Direncanakan Matang-matang dan Jauh Hari

Rifqi Al Furqon | 14 Juni 2026, 21:07 WIB
Tiket Pesawat Mahal, Traveler : Mau Gak Mau Trip Harus Direncanakan Matang-matang dan Jauh Hari
Pegiat Traveler dan Backpacker Kalbar, Jeklin

Kalbar.akurat.co - Fenomena lonjakan harga tiket pesawat belakangan ini menjadi pukulan telak bagi para pelancong atau traveler. Kenaikan harga yang dinilai mencapai 50 hingga 70 persen dari harga normal ini berdampak signifikan terhadap mobilitas dan rencana perjalanan masyarakat yang kerap bepergian.

​Hal ini dirasakan langsung oleh Jeklin, seorang traveler yang mengaku sangat terdampak oleh situasi tersebut. Menurutnya, lonjakan harga tiket saat ini sudah di tahap yang sangat membebani, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

​"Ini terasa banget. Dulu, saya bisa bolak-balik setiap akhir pekan ke Kuala Lumpur dengan biaya maksimal hanya Rp 2,5 juta untuk tiket. Sekarang, biayanya bisa membengkak hingga Rp 3,5 juta sampai Rp 4 juta hanya untuk penerbangan, apalagi jika membeli tiket secara mendadak," ungkap Jeklin.

​Kondisi serupa juga terjadi pada rute penerbangan domestik. Jeklin mencontohkan rute Pontianak–Balikpapan yang sebelumnya hanya memakan biaya maksimal Rp 2,4 juta untuk perjalanan pulang-pergi (PP). Kini, harga tersebut hanya cukup untuk tiket satu arah, di mana tiket PP rute tersebut bisa merogoh kocek hingga Rp 4 juta hingga Rp 4,2 juta.

​Mahalnya harga tiket pesawat tak ayal membuat para traveler harus meninjau ulang rencana perjalanan mereka. Jeklin mengaku pernah membatalkan penggunaan pesawat untuk rute Pontianak menuju Kuching, Malaysia, lantaran harga tiket satu arah menyentuh angka Rp 900 ribu hingga Rp 1,1 juta. Sebagai alternatif, ia akhirnya memilih menggunakan bus antarnegara yang jauh lebih terjangkau.

​Bagi para traveler, kondisi ini diakui sebagai tantangan yang sangat berat karena pesawat merupakan urat nadi mobilitas perjalanan jarak jauh. Untuk menyiasati keadaan, Jeklin terpaksa mengubah gaya perjalanannya. Kini, setiap rencana perjalanan harus disusun secara matang dan dipesan dari jauh-jauh hari.

​"Selain itu, kalau destinasinya masih bisa dijangkau dengan bus, saya akan pilih pakai bus. Saya juga harus benar-benar menekan anggaran (press budget), misalnya dengan menurunkan standar dan biaya akomodasi selama bepergian untuk menutupi mahalnya biaya transportasi," tambahnya.

​Menghadapi tantangan ini, kalangan traveler sangat berharap adanya intervensi dari berbagai pihak terkait. Jeklin menaruh harapan besar kepada pemerintah agar dapat memberikan subsidi untuk penerbangan domestik guna meringankan beban masyarakat.

​Selain itu, ia juga mendorong pihak maskapai penerbangan untuk menyediakan lebih banyak opsi penerbangan bertarif rendah (Low Cost Carrier/LCC) dengan sistem berbayar sesuai kebutuhan.

​"Harapannya maskapai bisa menyediakan opsi low cost carrier yang fleksibel. Jadi, untuk kalangan backpacker yang bepergian ringan tidak perlu diwajibkan membayar harga tiket penuh yang sudah termasuk fasilitas bagasi, sehingga harganya bisa jauh lebih murah," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.