Kalbar

Menelusuri Kuliner Halal di Kota Konfusius, Restoran Muslim Berusia 40 Tahun Tetap Bertahan

Rifqi Al Furqon | 5 Juli 2026, 18:52 WIB
Menelusuri Kuliner Halal di Kota Konfusius, Restoran Muslim Berusia 40 Tahun Tetap Bertahan
Salah Satu Restoran di Kota Qufu, Shandong, Tiongkok "Xinsheng Qingzhen Yuan" yang Menawarkan Makanan Halal Bagi Wisatawan Muslim. Dok : Samsul Hidayat

Akurat.co - Kota Qufu dikenal dunia sebagai tanah kelahiran filsuf besar Konfusius. Namun, di balik kuatnya identitas peradaban Konfusianisme, kota di Provinsi Shandong ini juga menyimpan jejak keberadaan komunitas Muslim yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya dapat ditemui melalui sebuah restoran halal bernama Xinsheng Qingzhen Yuan (新盛清真园) yang telah melayani pelanggan selama sekitar 40 tahun.

Temuan tersebut diperoleh Prof. Samsul Hidayat, peneliti dari IAIN Pontianak, saat mengikuti Qilu Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI), Qufu. Dalam kesempatan tersebut, ia berkesempatan mengunjungi salah satu restoran halal yang cukup dikenal masyarakat setempat.

Mencari restoran tersebut ternyata tidak semudah membayangkannya. Informasi di berbagai platform digital tidak sepenuhnya menunjukkan keberadaan restoran ini. Berbekal petunjuk warga lokal, akhirnya lokasi Xinsheng Qingzhen Yuan berhasil ditemukan tidak jauh dari pusat Kota Qufu.

Dari luar, restoran ini tampak sederhana. Namun, papan nama bertuliskan "清真" (Qingzhen) atau halal menjadi penanda bahwa restoran tersebut khusus menyajikan makanan sesuai syariat Islam. Di dalam restoran juga terpampang berbagai dokumen resmi, mulai dari izin usaha, sertifikat kesehatan karyawan, hingga informasi pengawasan keamanan pangan dari Pemerintah Kota Qufu.

Saat berbincang dengan pemilik restoran, diketahui bahwa usaha keluarga tersebut telah beroperasi selama kurang lebih empat dekade.

Sudah sekitar 40 tahun kami membuka restoran ini, ujar Jin Qingguo (金庆国) pemilik restoran saat berbincang dengan tamunya.

Meski tidak mencatat jumlah pelanggan berdasarkan agama, pemilik mengungkapkan bahwa restoran mereka cukup sering menerima kunjungan wisatawan Muslim dari berbagai negara.

"Kalau rombongan wisatawan asing datang, kebanyakan mereka adalah Muslim," katanya.

Percakapan kemudian menjadi semakin hangat ketika pemilik restoran mengenang pengalamannya pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2004 untuk urusan bisnis. Ia mengaku memiliki kesan yang baik terhadap masyarakat Indonesia dan masih mengingat kunjungan tersebut hingga sekarang.

Bagi wisatawan Muslim, keberadaan restoran seperti Xinsheng Qingzhen Yuan menjadi kabar menggembirakan. Di tengah kota yang lebih dikenal sebagai pusat kebudayaan Konfusianisme, wisatawan tetap dapat menikmati makanan halal dengan mudah.

Menu yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari semur kambing, semur iga sapi, sup kambing, ayam panggang halal, daging sapi saus khas, tumis daging kambing berbumbu jintan, hingga berbagai olahan ikan, udang, serta aneka sayuran. Seluruh menu disajikan tanpa menggunakan daging babi sehingga sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.

Dalam kunjungannya, Dr. Samsul Hidayat memesan ikan bawal goreng yang disajikan dengan saus khas restoran. Meski waktu makan siang resmi baru dimulai sekitar pukul 11.00, pihak restoran bersedia langsung memasak pesanan tersebut. Keramahan yang ditunjukkan pemilik dan pelayan membuat suasana makan terasa hangat dan bersahabat.

Yang tidak kalah menarik adalah harga makanan yang relatif terjangkau. Untuk satu porsi ikan bawal goreng, nasi, dan minuman, total biaya yang dibayarkan hanya 17 yuan, atau sekitar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu, tergantung nilai tukar mata uang.

Menurut Samsul Hidayat, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa fasilitas ramah Muslim di Qufu masih tetap terpelihara, meskipun jumlah komunitas Muslim di kota itu tidak sebesar di beberapa wilayah lain di Tiongkok.

"Keramahan masyarakat lokal dan kemudahan menemukan makanan halal menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ini menunjukkan bahwa wisatawan Muslim tetap dapat merasa nyaman ketika berkunjung ke Qufu," ujarnya.

Keberadaan restoran halal yang telah bertahan selama puluhan tahun menjadi bagian dari wajah keberagaman Kota Qufu. Di kota yang identik dengan warisan Konfusius, keberadaan komunitas Muslim beserta tradisi kulinernya menunjukkan bahwa keberagaman budaya dan agama dapat hidup berdampingan serta menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.