Menjaga Warisan dari Rumah Panyai, Tenun Kebat Batu Petara Dikenalkan kepada Anak-anak
kalbar.akurat.co — Rumah Panyai Sungai Antu di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal lebih dekat warisan budaya daerah melalui kegiatan “Rona Wastra Berbagi” pada 16 September 2026.
Kegiatan yang dihadirkan Lenora Fidelia Tuah Mualangnez, Putri Anak Kalimantan Barat 2, bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), serta SMPK Santo Gabriel Kabupaten Sekadau itu mengangkat kekayaan wastra daerah, khususnya Tenun Kebat Batu Petara.
Pengenalan wastra dilakukan dengan membawa anak-anak lebih dekat dengan kain tradisional sebagai bagian dari identitas dan warisan masyarakat Kabupaten Sekadau.
Bagi Lenora, memperkenalkan wastra kepada generasi muda tidak berhenti pada pengenalan bentuk maupun motif kain, tetapi juga menjadi cara untuk memahami cerita dan nilai yang diwariskan melalui budaya.
“Wastra bukan sekadar kain. Di dalamnya ada cerita, ada nilai, ada identitas dan warisan leluhur. Karena itu, generasi muda harus mengenal dan bangga terhadap budaya yang kita miliki.”
Melalui “Rona Wastra Berbagi”, anak-anak diajak memahami bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengenal, mempelajari, menggunakan, dan memperkenalkan wastra daerah kepada lingkungan sekitar.
Rumah Panyai Sungai Antu menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena rumah panjang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang kehidupan masyarakat yang mempertemukan berbagai generasi.
Di ruang tersebut, anak-anak dapat melihat bahwa budaya tidak hanya hadir dalam bentuk kain atau benda tradisional, tetapi juga melalui interaksi, kebersamaan, dan proses pewarisan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Di Rumah Panyai Sungai Antu, Lenora belajar bahwa budaya tidak hanya tersimpan dalam kain, motif, atau benda-benda tradisional. Budaya hidup melalui manusia, melalui kebersamaan, dan melalui generasi yang mau meneruskannya.”
Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang bagi Lenora untuk membawa pesan advokasinya lebih dekat kepada anak-anak di daerah melalui pengenalan wastra sebagai salah satu bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Barat.
Tenun Kebat Batu Petara menjadi salah satu warisan yang diperkenalkan kepada anak-anak agar mereka tidak hanya mengenal hasil budaya daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.
Dari Rumah Panyai Sungai Antu, “Rona Wastra Berbagi” membawa satu pesan sederhana namun bermakna:
“Warisan terjaga, budaya bermakna.”
Pengenalan budaya sejak dini menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan generasi muda dengan warisan daerahnya. Dengan mengenal budaya sendiri, anak-anak tidak hanya memahami jejak kehidupan generasi sebelumnya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ikut meneruskannya pada masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1CSR PT Jamkrida Disalurkan, BEM Seka Kalbar, Matahari Kalbar dan BEM UPB Bagikan 9.000 Liter Air Bersih di Pontianak Kota
- 2HWDI Kalbar Soroti Hak Perempuan Disabilitas untuk Hidup Setara
- 3Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H pada 8 Februari 2027, Idulfitri 9 Maret
- 4Puskesmas Sungai Kakap Tetap Bagikan Masker Saat Kabut Asap Masih Pekat
- 5Pasokan Air Terbatas, IMM Salurkan 9.000 Liter Air Layak Konsumsi di Rasau Jaya
- 6DPD IMM Kalbar dan Jatim Distribusikan Air Bersih Layak Konsumsi untuk Warga Terdampak Karhutla
- 7Kasus Diare Anak di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Capai 40 Kasus
- 8Milad ke-60, KAHMI Kubu Raya Perkuat Soliditas Lintas Generasi
- 9PW IPNU Kalbar Perkuat Konsolidasi dan Kaderisasi Lewat RAPIMWIL-LATIN 2026
- 10Menjaga Warisan dari Rumah Panyai, Tenun Kebat Batu Petara Dikenalkan kepada Anak-anak


