Mabes TNI Ajak Masyarakat Ubah Cara Pandang Kelola Hutan dan Lahan untuk Cegah Karhutla
kalbar.akurat.co — Ketua Tim Satgas Penyuluhan Mabes TNI Brigjen TNI Hari Mulyanto mengajak masyarakat mengubah cara pandang dalam mengelola hutan dan lahan dengan lebih mengedepankan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hari mengatakan pencegahan karhutla tidak cukup dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi harus dimulai sejak sebelum musim kemarau melalui perubahan perilaku, edukasi, dan kesiapsiagaan.
Menurut dia, pengelolaan lahan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Aspek lingkungan harus menjadi pertimbangan utama agar kebakaran tidak terus berulang dan dampaknya tidak dirasakan masyarakat luas.
“Jangan hanya profit oriented, tetapi kelestarian lingkungan harus diutamakan,” ujarnya dalam agenda Expose dan FGD Pencegahan dan Penanganan Karhutla secara Komprehensif, Holistik dan Integral di Aula Sultan Syarif Abdurrahman Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (17/9/2026).
Hari mengatakan keberhasilan mencegah karhutla akan berdampak langsung terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Pencegahan kebakaran dapat menjaga Kota Pontianak terbebas dari kabut asap, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, perekonomian tidak terganggu, serta risiko gangguan kesehatan dapat ditekan.
“Kalau tidak terjadi karhutla, Pontianak terbebas dari kabut asap, anak-anak bisa sekolah, ekonomi berjalan baik, kesehatan masyarakat juga tidak terganggu. Ini semua menentukan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang menekankan pentingnya pencegahan dibandingkan pemadaman ketika karhutla telah terjadi.
Edi mengatakan dengan luas wilayah sekitar 118,2 kilometer persegi dan sekitar 30 persen di antaranya merupakan lahan gambut, Kota Pontianak memiliki kawasan yang cukup rentan terbakar saat musim kemarau.
Menurut Edi, kerawanan kebakaran terutama terdapat di sejumlah wilayah Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Utara. Kemarau panjang pada 2026, kata dia, menjadi salah satu kondisi yang cukup berat karena telah berlangsung sejak awal Juni.
“Pencegahan lebih penting daripada memadamkan, karena kalau sudah terjadi kebakaran kita membutuhkan waktu, tenaga, dan anggaran yang sangat besar,” ujarnya.
Edi menjelaskan sebagian besar kebakaran lahan dipicu oleh aktivitas manusia. Polanya beragam, mulai dari membersihkan lahan dengan cara membakar, pembukaan lahan pertanian, pembukaan kawasan perumahan, hingga kelalaian seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah tanpa pengawasan.
Praktik membakar masih kerap dipilih karena dianggap sebagai cara cepat untuk membersihkan lahan dan menurunkan tingkat keasaman tanah. Namun, cara tersebut memiliki risiko besar karena api dapat merambat di bawah permukaan gambut sehingga sulit dipadamkan.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Pemerintah Kota Pontianak telah membentuk Satgas Pencegahan Karhutla yang melibatkan BPBD, TNI, kepolisian, Babinsa, Bhabinkamtibmas, kecamatan, kelurahan hingga unsur relawan.
Tim tersebut bertugas memonitor lahan rawan, melakukan sosialisasi, memasang imbauan larangan membakar, serta memantau kawasan menggunakan pengamatan langsung maupun drone.
“Kalau ada tanda-tanda potensi kebakaran, kita monitor. Kalau sampai terjadi kebakaran, kita padamkan secepat mungkin dan dilakukan pendinginan agar tidak muncul kembali,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H pada 8 Februari 2027, Idulfitri 9 Maret
- 2PT Jamkrida, Matahari Kalbar dan BEM Seka Bagikan 9.000 Liter Air Bersih Gratis di 6 Kecamatan
- 3Puskesmas Sungai Kakap Tetap Bagikan Masker Saat Kabut Asap Masih Pekat
- 4DPD IMM Kalbar dan Jatim Distribusikan Air Bersih Layak Konsumsi untuk Warga Terdampak Karhutla
- 5Eka Nurhayati Ishak Sampaikan Notifikasi Citizen Lawsuit Soal Pelayanan Air Bersih
- 6Tinjau CISEM II di Indramayu, Cornelis Soroti Dampak dan Keuntungan bagi Negara
- 71,1 Juta Liter Air Tawar dari Terentang Tiba di IPA Nipah Kuning
- 8Kasus Diare Anak di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Capai 40 Kasus
- 9Bukan Sekadar Pahlawan Raksasa, Ini Awal Mula Lahirnya Ultraman
- 10Mabes TNI Ajak Masyarakat Ubah Cara Pandang Kelola Hutan dan Lahan untuk Cegah Karhutla


