Kalbar

49.351 Rekening SimPel di Pontianak, Sampah Pelajar Kini Bisa Jadi Saldo Tabungan

Satyananda Wicaksana | 2 November 2026, 13:57 WIB
49.351 Rekening SimPel di Pontianak, Sampah Pelajar Kini Bisa Jadi Saldo Tabungan
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dalam Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SDN 15 Pontianak Selatan, Senin (2/11/2026). - Humas Pemkot Pontianak

kalbar.akurat.co - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus memperkuat budaya menabung dan kepedulian lingkungan di kalangan pelajar melalui pengembangan program Simpanan Pelajar (SimPel). Tercatat sebanyak 49.351 rekening SimPel telah dimiliki pelajar di Kota Pontianak. Ke depan, program tersebut akan dikembangkan dengan mengintegrasikan kegiatan bank sampah mini di lingkungan sekolah.

Inovasi ini memungkinkan siswa memperoleh saldo tabungan dari sampah yang mereka kumpulkan dan pilah dari rumah. Dengan demikian, edukasi keuangan tidak hanya dilakukan melalui kebiasaan menyisihkan uang, tetapi juga melalui pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, program SimPel telah dilaksanakan selama beberapa tahun dan terus diperluas melalui sosialisasi ke berbagai satuan pendidikan. Sosialisasi kali ini menyasar SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak dengan melibatkan pihak sekolah, tenaga pendidik, serta Bank Kalbar.

"Kita juga mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar," ujarnya usai kegiatan Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SDN 15 Pontianak Selatan, Senin (2/11/2026).

Edi menilai, pengenalan budaya menabung sejak dini merupakan salah satu upaya membentuk karakter anak. Melalui kebiasaan tersebut, pelajar dapat belajar mengatur keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta bertanggung jawab dalam menggunakan uang.

Ia berharap kepesertaan program SimPel semakin luas sehingga dapat menjangkau seluruh pelajar di Kota Pontianak, termasuk siswa sekolah swasta, madrasah, hingga pondok pesantren.

"Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, dan pondok-pondok pesantren," katanya.

Pengembangan program ini sekaligus memperkuat upaya Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Pontianak dalam memperluas inklusi keuangan. Sebelumnya, TPAKD Kota Pontianak berhasil meraih TPAKD Award 2026 sebagai TPAKD Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan.

Menurut Edi, pencapaian tersebut perlu diikuti dengan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Karena itu, Pemkot Pontianak terus membangun kolaborasi dengan Bank Kalbar dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk menghubungkan program tabungan pelajar dengan pengelolaan sampah.

Melalui skema bank sampah mini, siswa dapat membawa sampah anorganik yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah tersebut kemudian ditimbang dan dihargai sesuai nilai jual. Uang hasil penjualan selanjutnya disetorkan ke rekening SimPel milik masing-masing siswa.

"Kita juga menggalakkan bank sampah mini di sekolah-sekolah. Anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, kemudian ditimbang, dinilai, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan," jelas Edi.

Ia menambahkan, pendidikan literasi keuangan perlu dimulai dari kebiasaan sederhana. Tidak harus menunggu memiliki uang dalam jumlah besar, pelajar dapat belajar menabung melalui aktivitas sehari-hari, termasuk mengubah sampah menjadi sumber penghasilan tambahan.

Edi juga mengingatkan agar para siswa menggunakan uang secara bijak dan mengutamakan kebutuhan yang benar-benar penting.

"Disiplin menabung itu sangat penting. Anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan mereka," pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengungkapkan, dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah saat ini telah memiliki fasilitas bank sampah mini. DLH menargetkan jumlah tersebut terus bertambah melalui pembinaan dan pendampingan di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, penerapan bank sampah mini harus diawali dengan membangun pemahaman siswa mengenai pengelolaan sampah, terutama kemampuan membedakan dan memilah sampah berdasarkan jenisnya.

"Ini akan terus kita kembangkan. Anak-anak kita bina terlebih dahulu bagaimana cara memilah sampah, kemudian hasil pilahannya bisa dibawa ke sekolah dan menjadi tabungan mereka," terangnya.

Usmulyono menjelaskan, setelah siswa memahami mekanisme pemilahan, sekolah dapat bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk menampung sekaligus membeli sampah yang telah dikumpulkan. Nilai penjualannya kemudian dikonversikan menjadi saldo tabungan pelajar melalui program SimPel.

"Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka," jelasnya.

Ia mencontohkan, sejumlah jenis sampah plastik memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram. Meskipun nominalnya relatif kecil, kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna apabila dikelola dengan benar.

Bahkan, sampah plastik yang terkumpul berpotensi diolah lebih lanjut menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Pontianak sendiri telah memiliki fasilitas pengolahan plastik yang memungkinkan material tersebut dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan berbagai produk, seperti meja dan batako.

"Sampah plastik yang sudah dipilah nantinya bisa diolah menjadi bahan yang berguna, seperti meja, batako, dan sebagainya. Jadi bukan hanya dikumpulkan, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali," ungkapnya.

Lebih jauh, Usmulyono menilai keterlibatan pelajar dalam pengelolaan sampah dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat penampungan sementara (TPS). Pemilahan sejak dari rumah dan sekolah memungkinkan sampah yang masih bernilai ekonomi dimanfaatkan sebelum masuk ke tahapan pembuangan akhir.

"Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri," tuturnya.

Ia menambahkan, pengembangan bank sampah mini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan program Adiwiyata di Kota Pontianak. Berdasarkan surat edaran Wali Kota, seluruh sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berada di bawah kewenangan Pemkot Pontianak didorong untuk berpartisipasi dalam program tersebut.

DLH Kota Pontianak akan melanjutkan sosialisasi serta pendampingan kepada sekolah agar bank sampah mini dapat berjalan secara berkelanjutan. Bukan sekadar menyediakan tempat pengumpulan sampah, program ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru bagi siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Melalui integrasi SimPel dan bank sampah mini, pelajar diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kecakapan mengelola keuangan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan memilah sampah dan menabung diharapkan menjadi bagian dari kehidupan mereka hingga dewasa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.