Kalbar

Musim Hujan, dr. Asep Ahmad Saefullah Ingatkan Bahaya Chikungunya, Warga Diminta Waspada

Unggul Ali Sadewo | 31 Oktober 2026, 19:19 WIB
Musim Hujan, dr. Asep Ahmad Saefullah Ingatkan Bahaya Chikungunya, Warga Diminta Waspada
Musim Hujan, dr. Asep Ahmad Saefullah Ingatkan Bahaya Chikungunya, Warga Diminta Waspada - Unggul

Kalbar.akurat.co – Munculnya genangan air selama musim hujan berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk pembawa virus Chikungunya. Masyarakat diminta lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan tidak mengabaikan gejala demam yang disertai nyeri sendi hebat.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Jeumpa, Kalimantan Barat, dr. Asep Ahmad Saefullah, menjelaskan Chikungunya merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk terinfeksi, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Penyakit ini umumnya tidak menyebabkan kematian, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Penderitanya dapat mengalami demam tinggi dan nyeri sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, keluhan nyeri sendi bisa bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

"Chikungunya itu penyakit infeksi virus yang perlu diwaspadai masyarakat karena dapat menyebabkan demam tinggi dan nyeri sendi yang cukup berat. Tapi jangan panik dulu. Umumnya penyakit ini tidak menyebabkan kematian, namun juga tidak boleh dianggap sepele karena nyeri sendinya dapat berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan," jelas dr. Asep saat ditemui, Sabtu (31/10/2026).

Ia mengatakan, risiko penularan perlu diperhatikan terutama saat musim hujan. Genangan air di sekitar rumah, saluran air yang tersumbat, serta barang bekas yang menampung air dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Nyamuk yang telah menggigit seseorang yang terinfeksi Chikungunya dapat membawa virus dan menularkannya kembali kepada orang lain melalui gigitan berikutnya. Kondisi lingkungan yang kurang terjaga serta tingginya populasi nyamuk berpotensi memperluas penularan.

Gejala Chikungunya biasanya muncul 2–12 hari setelah gigitan nyamuk terinfeksi, dengan waktu yang paling sering sekitar 3–7 hari. Gejala awal umumnya berupa demam tinggi mendadak yang dapat mencapai 39 derajat Celsius atau lebih.

Selain demam, penderita dapat mengalami sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, ruam kemerahan pada kulit, serta pembengkakan persendian. Nyeri paling sering dirasakan pada pergelangan tangan, jari tangan, pergelangan kaki, dan lutut.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah nyeri sendi yang cukup berat hingga membuat seseorang kesulitan berjalan maupun melakukan pekerjaan sehari-hari.

Gejala Chikungunya juga memiliki kemiripan dengan demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak memastikan diagnosis sendiri hanya berdasarkan gejala.

Untuk mencegah penularan, dr. Asep mengimbau masyarakat menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Upaya lainnya dapat dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk, pemantauan jentik secara rutin, dan penggunaan abate sesuai petunjuk petugas kesehatan.

"Jangan menunggu sampai terinfeksi. Lakukan pencegahan sejak dini dengan 3M Plus, pemberantasan sarang nyamuk, dan pemantauan jentik. Kalau mengalami demam mendadak disertai nyeri sendi hebat, segera periksakan diri ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit. Jangan melakukan pengobatan sendiri secara sembarangan," pesannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap demam dan nyeri sendi sebagai keluhan biasa. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebab penyakit dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.