Kalbar

Iman Tetap On Point, Toleransi Tetap Jalan: Moderasi Beragama Versi Gen Z

Tim Redaksi | 21 Oktober 2026, 21:33 WIB
Iman Tetap On Point, Toleransi Tetap Jalan: Moderasi Beragama Versi Gen Z
Iman Tetap On Point, Toleransi Tetap Jalan: Moderasi Beragama Versi Gen Z - Penulis: Tomi Irawan

Bicara mengenai spiritualitas di zaman digital sering kali mirip dengan melangkah di jalur yang rapuh. Di satu sisi, algoritma jaringan sosial sering memberikan kita konten yang memperkuat sudut pandang pribadi, sering menyebabkan perpecahan. Di sisi lain, aliran informasi yang tiada henti menjadikan Generasi Z terpapar dengan beragam ide, budaya, dan kepercayaan yang bervariasi setiap harinya.

Di tengah kebisingan ini, ada sebuah tantangan signifikan: bagaimana mempertahankan iman agar tetap solid tanpa harus terjebak dalam sikap yang kaku dan menolak perbedaan? Untuk Generasi Z, solusinya terletak pada konsep yang semakin relevan: moderasi dalam beragama.

Namun, pendekatan moderasi dalam beragama untuk Gen Z bukanlah narasi yang kompleks dan kaku seperti yang terdapat dalam seminar formal. Bagi generasi yang tumbuh di era internet ini, moderasi beragama adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan yang sederhana: Iman tetap kuat, toleransi tetap berjalan.

 

Miskonsepsi Soal Moderasi Beragama

Selama ini, masih terdapat pemahaman yang salah bahwa moderasi dalam beragama berarti "menolak ajaran agama" atau mencampur adukkan kepercayaan demi terlihat toleran. Pandangan ini tentu saja salah besar.

Moderasi dalam beragama tidak berarti kita harus mengorbankan prinsip-prinsip aqidah atau ajaran agama yang dianut. Beragama dengan cara moderat justru muncul dari pemahaman agama yang mendalam dan matang. Individu yang moderat adalah mereka yang mempunyai keyakinan kuat dan taat pada agamanya, tetapi pada saat yang sama, mampu menghargai orang lain yang memiliki keyakinan yang berbeda.

Bagi generasi Z, beragama dengan taat itu terlihat menarik. Melaksanakan ibadah, mengenakan simbol-simbol keagamaan, hingga membagikan konten yang mengingatkan kebaikan di platform media sosial merupakan bentuk aktualisasi diri yang sah dan positif. Intinya jelas: iman kita harus tetap terjaga, konsisten, taat, dan tidak tergoyahkan.

Namun, ketaatan individu tersebut tidak boleh berujung pada sikap merasa lebih benar sendiri yang dapat menimbulkan kecenderungan untuk menghakimi orang lain.

 

Toleransi  Bukan Sekadar Formalitas

Jika generasi sebelumnya sering menganggap toleransi sebagai tindakan "mengalah" atau sekadar formalitas di saat hari besar keagamaan, Gen Z memiliki cara pandang yang lebih alami dan inklusif. Dalam sudut pandang Gen Z, toleransi merupakan bagian integral dari interaksi sehari-hari mereka.

Melalui platform digital seperti Discord, TikTok, dan forum permainan online, Gen Z terbiasa bekerja sama dengan teman-teman berasal dari berbagai suku dan agama. Mereka memahami bahwa perbedaan dalam keyakinan tidak menjadi penghalang untuk berkolaborasi dalam proyek kreatif, berkumpul di kafe kesukaan, atau memberikan dukungan emosional satu sama lain.

Toleransi ala Gen Z tercermin dalam tindakan nyata yang simpel:

1.     Tanpa Menghakimi: Menghargai keputusan dan kepercayaan orang lain tanpa merasa harus "memperbaiki" mereka di bagian komentar.

2.     Memberikan Kesempatan Beribadah: Menyadari saat sahabat dengan agama yang berbeda memerlukan waktu untuk beribadah atau berpuasa tanpa membuat mereka merasa tidak nyaman.

3.     Diskusi yang Konstruktif: Bersikap terbuka untuk berbincang tentang perbedaan budaya dan keyakinan tanpa harus menimbulkan argumen yang dapat merusak hubungan persahabatan.

 

Membendung Narasi Kebencian di Ruang Digital

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memiliki peranan penting dalam menjaga suasana keagamaan di dunia maya. Media sosial sering dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menyebar narasi kebencian dan provokasi yang berhubungan dengan SARA demi mendapatkan interaksi yang lebih banyak.

Di sinilah kemampuan moderasi agama versi Gen Z diuji. Menjadi orang yang moderat di ranah digital berarti harus selektif sebelum membagikan informasi. Gen Z yang memiliki kemampuan kritis tidak dengan mudah terpengaruh oleh klip video dramatis atau judul artikel yang memperuncing pertikaian. Mereka lebih memilih untuk menjadi pelunak: merespons narasi kebencian dengan konten edukatif yang menenangkan, atau setidaknya tidak ikut menyebarluaskan konten yang memecah belah.

 

Penutup: Menjadi Generasi yang Relevan dan Berdampak

Menggabungkan ketaatan terhadap ajaran agama dengan sikap menerima perbedaan tidaklah saling menentang. Sebaliknya, inti dari setiap keyakinan seharusnya menekankan cinta, perdamaian, dan penghormatan kepada sesama manusia.

Generasi Z tidak perlu memilih antara menjadi individu yang berpegang pada agama atau yang memiliki sikap toleran. Kita dapat menjalani kedua peran itu secara bersamaan. Dengan menjaga iman tetap solid dan menjunjung tinggi toleransi, Gen Z tidak hanya menunjukkan bahwa agama masih memiliki tempat di era modern, tetapi juga merupakan pondasi yang kuat untuk keberagaman Indonesia di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.