Kalbar

Slow Jogging 2,55K Jadi Momentum, Edi Dorong Pontianak Miliki Lebih Banyak Ruang Olahraga

Satyananda Wicaksana | 1 November 2026, 12:20 WIB
Slow Jogging 2,55K Jadi Momentum, Edi Dorong Pontianak Miliki Lebih Banyak Ruang Olahraga
Sebanyak 2.000 pacer meramaikan Slow Jogging dalam rangka Hari Jadi ke-255 Pontianak, Minggu (1/10/2026). - Humas Pemkot Pontianak

Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-255 Kota Pontianak diwarnai dengan kegiatan Slow Jogging Pontianak 2,55K yang diikuti sekitar 2.000 pacer, Minggu (1/11/2026) pagi. Mengambil lokasi start dan finis di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Kantor PMI Kota Pontianak, kegiatan ini menjadi ajang olahraga bersama sekaligus kampanye membangun kebiasaan hidup sehat.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, olahraga rekreatif seperti slow jogging dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk tetap aktif tanpa harus melakukan aktivitas fisik dengan intensitas berat.

Ia menilai, membangun budaya olahraga perlu dimulai dari kegiatan sederhana yang menyenangkan dan dapat diikuti oleh semua kelompok usia.

"Melalui kegiatan seperti slow jogging ini, kita ingin semakin banyak masyarakat yang gemar berolahraga. Tidak harus olahraga berat, yang penting rutin bergerak, sehat, dan bisa menikmati suasana kota bersama-sama," ujarnya.

Di sisi lain, Edi mengungkapkan bahwa Pemkot Pontianak tengah mempertimbangkan penambahan kawasan Car Free Day (CFD) di sejumlah wilayah. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan Pontianak sebagai kota ramah olahraga atau sport city.

Selama ini, Jalan Ahmad Yani dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan olahraga warga, terutama pada Minggu pagi. Kawasan tersebut menjadi ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk berlari, berjalan santai, bersepeda, hingga mengikuti aktivitas kebugaran bersama komunitas.

Ke depan, Pemkot ingin aktivitas serupa dapat berkembang di kawasan lain sehingga masyarakat memiliki lebih banyak alternatif ruang untuk berolahraga.

"Kita ingin kawasan Car Free Day ini semakin banyak, tidak hanya terpusat di Ahmad Yani. Dengan semakin banyak ruang yang bisa dimanfaatkan, masyarakat juga punya lebih banyak pilihan tempat untuk berolahraga," katanya.

Edi menjelaskan, rencana perluasan CFD akan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, kemudahan akses, serta karakteristik kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Ia juga berharap dukungan pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas infrastruktur, khususnya di Pontianak Timur dan Pontianak Utara.

Peningkatan infrastruktur di kedua kawasan tersebut dinilai dapat membuka peluang pengembangan ruang terbuka hijau yang sekaligus difungsikan sebagai pusat aktivitas masyarakat, termasuk olahraga dan rekreasi.

"Mudah-mudahan dengan bantuan pemerintah pusat untuk peningkatan kualitas infrastruktur di Pontianak Timur dan Utara, kita bisa menambah kawasan-kawasan yang dapat dijadikan ruang terbuka hijau dan Car Free Day," jelasnya.

Menurut Edi, fasilitas olahraga yang dibutuhkan masyarakat tidak harus selalu berupa stadion atau lapangan dengan standar pertandingan. Taman lingkungan, jalur pedestrian, serta ruang terbuka yang dilengkapi sarana kebugaran sederhana juga dapat menjadi pilihan untuk menunjang aktivitas fisik warga.

Penyediaan fasilitas yang dekat dengan permukiman diharapkan mampu membangun kebiasaan berolahraga secara berkelanjutan. Selain menjadi tempat beraktivitas, ruang publik yang nyaman juga dapat memperkuat interaksi sosial antarwarga.

"Kalau di taman-taman ada fasilitas olahraga, masyarakat akan lebih mudah tergerak untuk beraktivitas. Jadi kita akan terus meningkatkan kualitas dan menambah sarana prasarana olahraga, baik yang berstandar maupun yang sifatnya rekreasi," terangnya.

Lebih jauh, Edi memandang pengembangan olahraga massal memiliki potensi ekonomi yang tidak kalah penting. Aktivitas masyarakat di kawasan CFD, misalnya, dapat menciptakan peluang usaha bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang kuliner dan jasa.

Menurutnya, kawasan olahraga publik dapat berkembang menjadi ruang yang mempertemukan aktivitas kesehatan, rekreasi, interaksi sosial, sekaligus kegiatan ekonomi masyarakat.

"Kita bisa melihat setiap Minggu di kawasan Car Free Day Ahmad Yani, begitu banyak masyarakat yang turun untuk berolahraga. Ada yang santai, ada yang benar-benar berolahraga sampai berkeringat. Di saat yang sama, ekonomi juga bergerak. Inilah yang kita harapkan," ungkapnya.

Karena itu, pengembangan konsep sport city dan sport tourism di Pontianak diharapkan tidak hanya berfokus pada pembinaan atlet dan pencapaian prestasi olahraga. Lebih dari itu, olahraga juga diarahkan menjadi bagian dari strategi pembangunan kota yang sehat, produktif, serta memiliki daya tarik bagi wisatawan.

"Olahraga sekarang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Selain membuat masyarakat sehat dan kuat, olahraga juga bisa menjadi penggerak ekonomi. Kita ingin Pontianak menjadi kota yang ramah olahraga sekaligus memiliki daya tarik wisata olahraga," tegasnya.

Edi berharap Slow Jogging Pontianak 2,55K dapat menjadi salah satu pemantik tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Terlebih, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-255 Kota Pontianak dengan semangat Pontianak Tangguh Bersahabat.

Ia turut mengajak komunitas olahraga untuk terus membangun kolaborasi dengan pemerintah dalam menghadirkan kegiatan yang inklusif dan mudah dijangkau masyarakat.

"Kita ingin warga Kota Pontianak semakin sehat, aktif, dan bahagia. Pemerintah akan terus berupaya menyediakan ruang dan fasilitas yang mendukung, sehingga olahraga benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.