Kalbar

Harga Sayur dan Cabai di Pontianak Melonjak, Pedagang Keluhkan Daya Beli Warga

Unggul Ali Sadewo | 21 September 2026, 20:08 WIB
Harga Sayur dan Cabai di Pontianak Melonjak, Pedagang Keluhkan Daya Beli Warga
Harga Sayur dan Cabai di Pontianak Melonjak - Ist

Kalbar.akurat.co — Harga sejumlah sayuran dan cabai di Pasar Tradisional Flamboyan, Kota Pontianak, melonjak dalam dua bulan terakhir. Kenaikan terjadi ketika pasokan sejumlah komoditas lokal terganggu akibat kemarau dan persoalan ketersediaan air.

Kondisi tersebut mulai dirasakan langsung pedagang dan pembeli. Harga beberapa sayuran yang sebelumnya relatif terjangkau kini mencapai puluhan ribu rupiah per kilogram.

Maryanto, pedagang sayur di Pasar Tradisional Flamboyan, mengatakan kenaikan harga hampir terjadi pada seluruh komoditas sayuran yang dijualnya.

"Semua harga bahan pokok melonjak naik sampai para pembeli itu mengeluh dengan para pedagang. Harganya ada yang tidak terjangkau oleh masyarakat kecil yang ingin biasa makan sayur. Sekarang harga sayur melonjak tinggi," ujarnya saat ditemui di Pasar Tradisional Flamboyan, Senin (21/9/2026).

Ia menyebut harga kangkung kini mencapai Rp40 ribu per kilogram. Sawi yang sebelumnya sekitar Rp40 ribu naik menjadi Rp45 ribu per kilogram, sedangkan kacang panjang mencapai Rp55 ribu per kilogram.

"Kangkung sekarang pasaran mencapai Rp40 ribu sekilo, sawi sekarang dari Rp40 ribu bisa Rp45 ribu, semua sayur melonjak. Timun juga naik, kacang panjang Rp55 ribu, padahal sebelumnya tidak pernah sampai harga Rp55 ribu. Harga biasa cuma Rp8 ribu, Rp10 ribu, sampai Rp15 ribu," tuturnya.

Kenaikan juga terjadi pada tauge. Komoditas yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu kini disebut berada pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.

Sementara itu, wortel dan kentang yang didatangkan dari Pulau Jawa masih relatif stabil. Pasokan dari luar daerah tersebut membantu memenuhi kebutuhan pasar Pontianak, meski kedatangannya tidak setiap hari.

"Kalau wortel dan kentang harganya stabil karena datang dari Jawa. Kalau di Pontianak ini rata-rata barangnya naik semua. Tauge juga naik dari Rp10 ribu sekarang Rp35 ribu sampai Rp40 ribu," beber Maryanto.

Menurut dia, kenaikan harga mulai terasa sekitar dua bulan terakhir. Kemarau disebut berdampak terhadap pertumbuhan tanaman karena petani menghadapi keterbatasan air.

"Sejak dua bulan ini, sejak kemarau juga pengaruh air dan asap, jadi sayur itu susah tumbuh, susah kembang, jadi kadang bunganya jatuh tidak bisa tumbuh," terangnya.

Persoalan air asin juga disebut menjadi salah satu kendala produksi. Kondisi itu turut memengaruhi ketersediaan sejumlah sayuran dan buah, termasuk timun.

"Sayur sih kendala air, katanya kendala air asin. Kalau sayur, kalau buah-buahan kendalanya susah. Kayak timun juga susah. Timun sekarang alhamdulillah ada datang dari Jawa bisa Rp20 ribu sampai Rp25 ribu. Kemarin sampai ada Rp35 ribu sampai Rp40 ribu," ungkapnya.

Di tengah kenaikan harga sayuran, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan. Harga bawang merah turun dari Rp70 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih turun dari Rp40 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.

Harga minyak goreng masih berada di sekitar Rp22 ribu per liter. Adapun ayam potong naik dari Rp26 ribu menjadi Rp29 ribu per kilogram.

Kenaikan paling mencolok lainnya terjadi pada cabai. Harga komoditas tersebut disebut melonjak dari Rp65 ribu menjadi sekitar Rp120 ribu per kilogram.

"Harga cabai juga naik melonjak. Dari Rp65 ribu sekarang sampai ada Rp120 ribu harganya," keluhnya.

Meski pasokan lokal mengalami tekanan, aktivitas perdagangan di Pasar Flamboyan masih berlangsung. Pasokan dari Jawa menjadi salah satu alternatif pedagang untuk menjaga ketersediaan sejumlah komoditas sekaligus menahan kenaikan harga agar tidak semakin tinggi.

"Yang barang dari Pontianak itu harganya lebih tinggi. Untung alhamdulillah ini ada barang dari Jawa datang. Kadang tiga hari sekali, empat hari sekali saja barang dari Jawa. Alhamdulillah," pungkas Maryanto.

Pedagang berharap distribusi komoditas dari luar daerah dapat lebih teratur. Menurutnya, ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor penting agar harga kebutuhan pokok di tingkat pasar tetap terkendali.

"Mudah-mudahan kami pedagang kalau bisa diperhatikan para barang-barang yang datang dari luar. Jadi ada pengaturannya, harganya stabil. Itu harapan pedagang," harapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.