Kalbar

HNSI Kalbar Ingatkan Nelayan Waspadai Kabut Asap Karhutla

Unggul Ali Sadewo | 20 September 2026, 21:29 WIB
HNSI Kalbar Ingatkan Nelayan Waspadai Kabut Asap Karhutla
Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kalimantan Barat periode 2024–2029, Eka Indah Raharjo - Unggul

Kalbar.akurat.co – Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kalimantan Barat periode 2024–2029 Eka Indah Raharjo mengingatkan seluruh nelayan meningkatkan kewaspadaan saat melaut menyusul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

“Karhutla yang terjadi di Kalimantan Barat tahun 2026 ini merupakan musibah yang sangat merugikan masyarakat luas. Bagi nelayan, dampaknya sangat terasa karena aktivitas melaut untuk menangkap ikan ikut terganggu,” kata Eka Indah Raharjo di Pontianak, Minggu (20/9/2026).

Menurut Eka, kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di daratan, tetapi juga menjadi persoalan serius bagi nelayan yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas menangkap ikan di kawasan pesisir dan perairan.

Ia mengatakan terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap dapat meningkatkan risiko keselamatan nelayan ketika berada di laut.

“Jarak pandang nelayan menjadi sangat terbatas. Kondisi seperti ini tentu menyulitkan nelayan dalam melihat situasi di sekitar perairan, termasuk ketika mencari lokasi gerombolan ikan,” ujarnya.

Selain menyulitkan aktivitas penangkapan ikan, kata Eka, kabut asap juga dapat mengganggu orientasi nelayan dalam menentukan arah perjalanan.

“Pandangan ke langit juga sangat terhalang kabut asap. Cahaya matahari menjadi minim, begitu juga cahaya bulan pada malam hari. Kalau kondisi semakin pekat, nelayan bisa kehilangan arah karena jarak pandang nyaris tidak terlihat,” katanya.

Eka menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena nelayan tetap harus melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun keselamatan tidak boleh diabaikan.

“Kami mengimbau kepada seluruh nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan secara maksimal terhadap ancaman kabut asap. Jangan memaksakan diri melaut apabila kondisi di lapangan sudah membahayakan keselamatan,” ucapnya.

Ia menegaskan keputusan untuk melaut harus mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, kondisi perairan serta kemampuan nelayan dalam menghadapi situasi yang berisiko.

“Keselamatan harus menjadi prioritas. Nelayan harus mampu melihat kondisi dan mengambil keputusan secara bijak. Jangan sampai karena mengejar pendapatan, keselamatan diri justru dipertaruhkan,” kata Eka.

Menurut dia, penurunan aktivitas melaut akibat kabut asap memang berpotensi berdampak terhadap pendapatan nelayan. Namun, kondisi tersebut dapat disiasati dengan melakukan pekerjaan lain sembari menunggu kondisi perairan kembali aman.

“Kalau aktivitas melaut berkurang dan pendapatan ikut turun, tentunya nelayan harus bersabar. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan sementara, seperti memperbaiki jaring tangkap, memperbaiki badan kapal maupun melakukan perawatan mesin,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Eka, nelayan juga dapat memanfaatkan waktu dengan melakukan aktivitas sampingan seperti bertani, beternak, bertukang maupun pekerjaan lainnya yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yang terpenting jangan memaksakan diri ketika kondisi tidak memungkinkan. Keselamatan nelayan dan keluarga tetap harus menjadi pertimbangan utama,” tuturnya.

Eka mengatakan HNSI sebagai wadah organisasi nelayan terus mendorong kesadaran dan kemandirian nelayan dalam menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengganggu aktivitas maupun keselamatan mereka.

“HNSI adalah wadah organisasi bagi semua nelayan. Tetapi perlindungan terhadap diri sendiri juga harus dimulai dari masing-masing nelayan. Kita harus sama-sama mendorong kesadaran untuk menjaga keselamatan ketika berada di laut,” katanya.

Ia berharap penanganan karhutla di Kalimantan Barat dapat segera dilakukan secara maksimal sehingga kabut asap yang menyebar hingga kawasan pesisir dan perairan dapat segera berakhir.

“Kami berharap musibah karhutla ini segera berlalu. Semoga kondisi kembali normal sehingga nelayan dapat kembali beraktivitas dengan aman untuk mencari nafkah bagi keluarganya,” kata Eka.

Eka juga mengajak para nelayan untuk tetap berikhtiar sekaligus berdoa agar bencana karhutla segera berakhir.

“Kita tetap berusaha, tetap waspada dan jangan lupa berdoa memohon petunjuk serta pertolongan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar musibah karhutla ini segera berlalu,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.