Kalbar

Kualitas Air Kapuas Terancam Intrusi Laut, Biong Dibidik Jadi Sumber Air Baku Pontianak

Unggul Ali Sadewo | 23 September 2026, 06:04 WIB
Kualitas Air Kapuas Terancam Intrusi Laut, Biong Dibidik Jadi Sumber Air Baku Pontianak
Kualitas Air Kapuas Terancam Intrusi Laut, Biong Dibidik Jadi Sumber Air Baku Pontianak - Humas Pemkot Pontianak

kalbar.akurat.co — Ancaman kemarau panjang dan intrusi air laut membuat Pemerintah Kota Pontianak mulai mencari sumber air baku alternatif. Kawasan Biong di Kubu Raya kini dikaji sebagai salah satu opsi untuk memperkuat pasokan air bersih Kota Pontianak.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono turun langsung meninjau kawasan Biong, yang berada di aliran Sungai Landak, Selasa (22/9/2026) sore. Lokasi tersebut berjarak sekitar 22 kilometer dari Waduk Penepat.

Tim Laboratorium Perumda Tirta Khatulistiwa turut mengambil sampel air untuk mengetahui kualitas air di kawasan tersebut.

“Ini salah satu alternatif yang kita lihat karena semakin jauh dari pengaruh pasang air laut, kualitas air diharapkan semakin tawar,” ujarnya.

Hasil pengujian awal menunjukkan kondisi air cukup baik. Kadar garam yang menjadi salah satu parameter pemeriksaan tercatat 11 miligram per liter.

Namun, hasil tersebut belum menjadi dasar untuk menetapkan Biong sebagai sumber air baku. Pemkot Pontianak masih harus menghitung kelayakan teknis, termasuk lebar dan kedalaman sungai, jarak menuju instalasi pengolahan air hingga kebutuhan jaringan perpipaan.

“Bukan hanya soal airnya tawar atau tidak. Kita harus hitung aksesnya, jaraknya ke instalasi pengolahan, sampai bagaimana nanti jaringan pipanya,” jelasnya.

Karakter Sungai Landak di kawasan Biong juga masih akan dikaji untuk melihat kelayakannya dari sisi operasional. Salah satu opsi yang muncul adalah membangun jaringan pipa dari arah Waduk Penepat.

“Untuk Biong, salah satu kemungkinan yang perlu kita kaji adalah menyambungkan pipa dari arah Waduk Penepat,” ujarnya.

Edi mengatakan, Pontianak perlu memiliki lebih dari satu sumber air baku untuk mengantisipasi gangguan terhadap sumber yang selama ini digunakan. Kemarau panjang dan intrusi air laut menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam menjaga pasokan air bersih.

“Kita tidak ingin hanya mengandalkan satu sumber. Semua alternatif akan kita uji dan hitung secara teknis,” katanya.

Kajian Biong diarahkan sebagai langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pasokan air bersih. Keputusan menjadikan kawasan tersebut sebagai sumber air baku akan ditentukan setelah seluruh aspek kualitas air, teknis, akses, dan kebutuhan infrastrukturnya dihitung.

“Ikhtiar ini kita lakukan supaya kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga, hari ini maupun ke depan,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.