Kalbar

Mengenal Sejarah Iqro, Metode Belajar Al-Qur’an Karya Kader Muhammadiyah dari Yogyakarta

Unggul Ali Sadewo | 31 Oktober 2026, 17:11 WIB
Mengenal Sejarah Iqro, Metode Belajar Al-Qur’an Karya Kader Muhammadiyah dari Yogyakarta
Mengenal Sejarah Iqro, Metode Belajar Al-Qur’an Karya Kader Muhammadiyah dari Yogyakarta - Ist

Kalbar.akurat.co — Buku Iqro yang selama ini digunakan oleh jutaan umat Islam untuk belajar membaca Al-Qur’an memiliki sejarah panjang. Metode pembelajaran tersebut disusun oleh KH As’ad Humam, tokoh yang tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta.

As’ad Humam dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mempermudah masyarakat, khususnya anak-anak, dalam mempelajari bacaan Al-Qur’an. Ia mengembangkan metode pembelajaran yang lebih praktis agar masyarakat dapat membaca Al-Qur’an secara bertahap dan mudah dipahami.

Sebelum menyusun Iqro, As’ad Humam telah lama mengajar membaca Al-Qur’an sejak sekitar 1950-an. Pengalamannya dalam mengajarkan berbagai metode membaca Al-Qur’an menjadi salah satu dasar pengembangan metode Iqro.

Dalam proses penyusunannya, As’ad Humam tidak bekerja sendiri. Ia bersama Jazir ASP dan sejumlah pegiat pendidikan Al-Qur’an yang tergabung dalam Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musala (AMM) Yogyakarta turut mengembangkan metode tersebut.

Buku Iqro kemudian disusun menjadi enam jilid, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga kemampuan membaca rangkaian ayat Al-Qur’an. Salah satu keunggulan metode ini adalah pendekatan langsung membaca, sehingga peserta didik tidak harus mengeja huruf satu per satu seperti metode pembelajaran tradisional.

Perkembangan metode Iqro semakin terlihat setelah berdirinya TK Al-Qur'an AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986. Selanjutnya, pendidikan Al-Qur'an terus dikembangkan melalui Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) dan berbagai kegiatan pembelajaran di masyarakat.

Metode Iqro kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan digunakan oleh berbagai lembaga pendidikan Islam. Penggunaannya juga mendapat dukungan dari berbagai organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Pada 1988, metode Iqro mendapat pengakuan dari Menteri Agama. Sejak saat itu, penyebarannya semakin luas dan menjadi salah satu metode pembelajaran membaca Al-Qur'an yang dikenal masyarakat Indonesia.

As’ad Humam wafat pada 2 Februari 1996. Meski telah tiada, metode Iqro yang dikembangkannya tetap digunakan hingga sekarang sebagai sarana belajar membaca Al-Qur’an bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Sejarah Iqro menjadi salah satu catatan penting kontribusi tokoh dan kader Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Melalui metode sederhana tersebut, As’ad Humam meninggalkan warisan pendidikan yang manfaatnya masih dirasakan oleh banyak generasi hingga saat ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.