Kalbar

Film Hamka: Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November, Menelusuri Perjalanan Hidup Buya Hamka

Unggul Ali Sadewo | 2 November 2026, 21:42 WIB
Film Hamka: Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November, Menelusuri Perjalanan Hidup Buya Hamka
Film Hamka: Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November, Menelusuri Perjalanan Hidup Buya Hamka - Ist

kalbar.akurat.co — Sebelum dikenal sebagai ulama besar, sastrawan, dan tokoh nasional, Buya Hamka adalah seorang anak yang tumbuh di lingkungan keluarga religius di Maninjau, Sumatera Barat. Perjalanan hidupnya penuh dengan proses belajar, merantau, perjuangan, hingga menghasilkan karya yang masih dibaca lintas generasi.

Kisah tersebut kembali menarik perhatian melalui film Hamka: Awal Mula (Vol. 3) yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2026. Film ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat perjalanan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, nama lengkap Buya Hamka, sejak masa kecil hingga tumbuh menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Hamka lahir pada 16 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ia merupakan putra Syekh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, seorang ulama terkemuka di Minangkabau.

Sejak kecil, Hamka hidup dalam lingkungan pendidikan agama. Ia pernah belajar di Sumatera Thawalib Padang Panjang. Namun, ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan, sastra, dan dunia luar membuatnya tidak berhenti belajar di bangku pendidikan formal.

Ketika berusia sekitar 16 tahun, Hamka mulai merantau ke Pulau Jawa. Di sana, ia berkenalan dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto. Pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai agama, masyarakat, dan perjuangan bangsa.

Pada 1927, Hamka berangkat ke Makkah. Selain menunaikan ibadah haji, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa Arab. Pengalaman merantau menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektualnya.

Sepulang dari Makkah, Hamka semakin aktif dalam dakwah, pendidikan, dan Persyarikatan Muhammadiyah. Ia juga menekuni dunia jurnalistik dan sastra. Namanya dikenal melalui sejumlah karya, di antaranya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Perjalanan Hamka tidak selalu berjalan mudah. Pada 1964, ia ditahan oleh pemerintah pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Dalam masa penahanan tersebut, ia justru menyelesaikan sebagian besar karya besarnya, *Tafsir Al-Azhar*, yang kemudian menjadi salah satu rujukan penting umat Islam di Indonesia.

Pada 1975, Hamka dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Jabatan itu dijalaninya hingga akhirnya mengundurkan diri pada 1981 setelah terjadi perbedaan sikap terkait kebijakan pemerintah dan fatwa MUI.

Pada 24 Juli 1981, Buya Hamka meninggal dunia di Jakarta dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Meski telah wafat, pemikiran, tulisan, dan perjalanan hidupnya tetap menjadi bagian penting dari sejarah keislaman dan kebangsaan Indonesia.

Kini, kisah perjalanan hidupnya kembali diangkat melalui film Hamka: Awal Mula (Vol. 3). Penonton tidak hanya diajak mengenal sosok Buya Hamka sebagai ulama besar, tetapi juga melihat proses panjang seorang manusia dalam mencari ilmu, menghadapi tantangan, dan membangun pemikiran yang berpengaruh hingga saat ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.