Hazilina Ikuti Lokakarya INKLUSI ‘Aisyiyah, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak

kalbar.akurat.co – Ketua Tim Inklusi Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Barat, Hazilina, mengikuti Lokakarya Analisis dan Refleksi Partisipatif (Participatory Analysis and Reflection/PAR) Program INKLUSI ‘Aisyiyah yang diselenggarakan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di SM Tower and Convention, Yogyakarta, 4–5 November 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengevaluasi perkembangan pelaksanaan Program INKLUSI ‘Aisyiyah yang telah memasuki fase kedua, sekaligus memperkuat strategi dan model program agar semakin berdampak bagi masyarakat, khususnya kelompok perempuan dan anak.
Hazilina yang juga merupakan dosen hukum di Universitas Muhammadiyah Pontianak serta Ketua Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) UM Pontianak, mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan kapasitas tim inklusi di tingkat wilayah.
Dalam lokakarya ini, proses refleksi dilakukan melalui pendekatan partisipatif untuk melihat capaian program, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan langkah penguatan pelaksanaan program ke depan.
Selain lokakarya, rangkaian kegiatan juga dilanjutkan dengan Pelatihan *Safeguarding* PSEAH dan *Child Protection* pada Jumat, 6 November 2026. Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas *focal point* atau tim Program INKLUSI dalam membangun sistem perlindungan yang aman, responsif, dan berpihak kepada kelompok rentan.
Hazilina menilai penguatan kapasitas tersebut penting agar upaya perlindungan perempuan dan anak tidak berhenti pada kebijakan atau komitmen tertulis, tetapi benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan program dan kehidupan masyarakat.
“Program inklusi harus memastikan setiap orang, terutama perempuan dan anak serta kelompok rentan, mendapatkan ruang yang aman, perlindungan, dan kesempatan yang setara. Karena itu, evaluasi dan peningkatan kapasitas menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai *safeguarding* dan perlindungan anak bagi seluruh pihak yang terlibat dalam program, sehingga potensi kekerasan, pelecehan, eksploitasi, maupun tindakan yang merugikan kelompok rentan dapat dicegah sejak dini.
“Perlindungan tidak cukup hanya dengan mengetahui adanya aturan. Setiap tim harus memahami mekanisme pencegahan, mengenali risiko, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan dugaan kekerasan atau pelanggaran. Dengan begitu, komitmen perlindungan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Tim Inklusi ‘Aisyiyah di tingkat wilayah maupun daerah semakin mampu menjalankan program secara partisipatif, memperkuat sistem perlindungan, serta menghadirkan dakwah kemanusiaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cegah Bullying dan Radikalisme, Rostini Hagawalti Usulkan Satu Psikolog untuk Tiga Sekolah
- 2Kecil-Kecil Cabe Rawit: Mengintip Ketangguhan BD9020, Solusi Cerdas Proyek Infrastruktur di Lahan Sempit
- 3Dua Perwakilan Bawaslu Kalbar Dilantik sebagai Anggota Tim Pemeriksa Daerah Periode 2026–2027
- 4Orang Tua Korban Dugaan Pelecehan di Sekolah Rakyat Pontianak Tempuh Jalur Hukum, Soroti Kelalaian Penanggung Jawab
- 5Pertama Dalam Sejarah, Kalbar Tembus Nominasi IGA 2026 Lewat Inovasi Pelayanan Publik
- 6Kelurahan Sungai Jawi Tembus Tiga Besar Regional Kalimantan, Siap Bersaing di Tingkat Nasional
- 7Derahman Soroti Minimnya Anggaran Bantuan Bencana, Minta Dinsos Perkuat Perencanaan dan Percepat Realisasi PM YAPI
- 8GMKI Pontianak Buka Posko Pengaduan Sekolah Rakyat, Dorong Evaluasi Pengawasan dan Perlindungan Anak
- 9Pontianak Tembus 10 Besar Nasional Tata Kelola Digital, Terbaik di Kalbar
- 10Antisipasi Intrusi Air Laut, PDAM Pontianak Dorong Pembangunan SPAM Regional







